Selasa, 19 Juli 2011

Telaah Pondok Pesantren Tanjung Salam Ciwidey


BAB I
PENDAHULUAN
A.  LATAR BELAKANG
Salah satu pendidikan Islam tradisional di Jawa dan Madura ialah pesantren. Pesantren merupakan pendidikan khas Indonesia yang tidak dapat dipisahkan dengan perjalanan pemerintahan ini. Pesantren banyak memberikan kontribusi baik dalam kehidupan moralitas masyarakat, ekonomi, sosial, pendidikan maupun politik.
Metode pendidikan yang dikembangkan oleh para Kiyai melahirkan sebuah pendidikan Islam yang disebut dengan pesantren. Terlepas dari pendapat pesantren merupakan sebuah adaptasi dari budaya Hindu dan Jawa, pendidikan pesantren ini merupakan sistem pendidikan yang lahir dari perkembangan penyebaran Islam di masyarakat Nusantara.
Dahulu pesantren merupakan sebuah kelompok belajar atau pengajian yang dibimbing oleh seorang kiyai saja yang pengajarannya dipusatkan di mesjid. Pengajian tersebut pun berkembang dengan disediakannya pondok untuk para penuntut ilmu. Lahirnya pesantren merupakan ancaman bagi para penjajah pada waktu itu, sehingga penjajah memperkenalkan sistem pendidikan barat dengan tujuan untuk memperluas pengaruhnya dan menandingi perkembangan pesantren. Pesantren pun mengembangkan sistem pendidikannya dan melahirkan sistem  pendidikan baru yaitu madrasah.
Setelah pesantren mengalami perubahan dengan waktu yang sangat panjang, reformasi pendidikan Islam tradisional ini menjadikan para santrinya sekarang bisa menikmati pendidikan formal dengan tetap mengikuti ritual harian pesantren dengan kelas sorogan dan bandongannya. Tidak semua pesantren mengalami perubahan. Dalam tradisi pesantren terdapat pemisahan antara pesantren yang mengajarkan pengetahuan umum dengan pesantren yang tetap hanya mengajarkan kitab-kitab Islam klasik.
Berkembangnya pendidikan pesantren menjadikan pesantren dikelompokan menjadi 2 kelompok antara lain:
1.    Pesantren Salafi; yaitu sistem pendidikan Islam tradisional yang mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik dengan mempertahankan metode pengajarannya yang khas yaitu sorogan dan bandongan tanpa mengenalkan pengajaran pengetahuan umum.
2.    Pesantren Khalafi; yaitu sistem pendidikan Islam tradisional yang melestarikan pengajaran kitab-kitab Islam klasik berikut metode khasnya yang juga memasukkan pengajaran ilmu pengetahuan umum dengan dibukanya sistem madrasah dan tipe-tipe sekolah umum.
Dengan berkembangnya sistem madrasah, sistem kelas dan sekolah umum di pesantren-pesantren mengakibatkan tradisi khas pendidikan Islam tradisional mulai pudar dan hilang, seperti halnya tradisi pesantren santri kelana. Santri sekarang lebih kaku dan bergantung pada ijazah formal. Tentu hal ini disebabkan karena ijazah formal menjanjikan peluang kerja lebih.
Terlepas dari semua itu, kini muncul permasalahan-permasalahan pendidikan  pesantren dalam menghadapi perubahan dan perkembangan masyarakat. Pesantren dituntut untuk bisa memberikan pendidikan spiritual tanpa mengabaikan tuntutan dunia modern. Terlepas dari semua itu, kini pesantren menjadi sebuah icon pendidikan Islam dan harapan bagi perkembangan pendidikan Islam khususnya di Indonesia.
Dari beberapa penjelasan di atas, kami tertarik untuk mengkaji lebih dalam lagi seputar perkembangan pesantren salafi. Terlebih pada keadaaan sekarang ini, perkembangan masyarakat yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan modern. Pesantren salafi menjadi bahan kajian yang sangat menarik untuk didiskusikan karena apakah mungkin pesantren salafi mampu tetap bertahan pada tradisi lamanya dan apakah solusi terbaik bagi pesantren salafi untuk mempertahankan tradisi lama dan para santrinya dalam menghadapi tuntutan kebutuhan masyarakat yang pada saat ini semakin kompleks.
Sebagai lembaga pendidikan Islam yang menyatakan sebagai pesantren salafi, yaitu pondok pesantren Tanjung Salam maka kiranya menjadi sebuah keertarikan kami untuk menjadikan lembaga tersebut sebagai objek observasi kami. Selain itu kami dapat mengkaji lebih dalam seputar pesantren salafi dan mengkolerasikannya dengan teori yang telah kami dapatkan.


B.  RUMUSAN MASALAH DAN TUJUAN PENELITIAN
Sebagai icon pendidikan Islam, pesantren merupakan media pendidikan yang paling tepat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan karena pesantren berkembang dan berevolusi mengikuti perkembangan sosial, kultur, ekonomi, maupun politik. Akan tetapi, perkembangan kehidupan modern yang cepat ini tidak bisa didampingi dengan mudah. Hal ini disebabkan banyak hal yang sangat fundamental dan tidak bisa dirubah begitu saja secepatnya.
Oleh karena itu pemodernisasian pesantren menjadi polemik tersendiri bagi para pemimpinnya yaitu Kiyai. Terlebih penantren salafi, selain harus tetap mempertahankan aspek-aspek positif yang telah menjadi tradisi pesantren dan tetap menjaga tradisi keilmuannya itu sendiri.
Dari beberapa penjelasan diatas, kami merumuskan beberapa permasalahan yang muncul dalam lembaga pendidikan pesantren tersebut, antara lain:
v  Sejauh mana pesantren Tanjung Salam masuk ke dalam karakteristik sebuah pondok pesantren!
v  Apa yang menjadi dasar pondok pesantren Tanjung Salam ini disebut sebagai pondok pesantren salafi!
v  Sistem pendidikan seperti apa yang ditawarkan pondok pesantren Tanjung Salam!
Tujuan dari penelitian ini adalah agar kami dapat mengetahui perkembangan pesantren pada saat ini dalam menghadapi perkembangan masyarakat yang cepat ini. Selain itu, dengan penelitian ini kami dapat membandingkan dan menguji teori atau konsep yang telah kami temukan dengan lembaga pendidikan pondok pesantren yang kami temui.
Sehingga dari hasil penelitian ini dapat kami ungkapkan sejauh mana kualitas pengelolan pendidikan Islam. Dengan mengetahui kualitas pengelolaan pendidikan Islam dan usaha yang dilakukan dalam revolusi pendidikan ini maka kami akan mudah membuat sebuah perencanaan atau konsep pendidikan Islam yang lebih baik sehingga apa yang dicita-citakan atau tujuan dari pendidikan Islam mampu terwujudkan.


C.  METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini, kami melakukan observasi langsung pada lembaga pendidkan Islam yang bersangkutan. Observasi ini merupakan sebuah penafsiran terhadap sebuah teori manjemen lembaga pendidikan Islam dan teori tentang tradisi pesantren. Metode penelitian yang kami lakukan lebih kepada participant observer dimana peneliti berperan sebagai pengamat ikut serta dalam berbagai kegiatan pada lembaga pendidikan tersebut dan dengan segera mencatat apa yang terjadi dilapangan.
Untuk memperkuat dan menambah validitas data selain melakukan pegamatan atau observasi kami melakukan wawancara. Kami melayangkan beberapa pertanyaan secara verbal kepada orang-orang yang kami anggap dapat memberikan informasi atau penjelasan hal-hal yang kami anggap perlu. Bentuk wawancara yang kami lakukan adalah semi terstruktur yaitu bentuk wawancara yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu akan tetapi memberikan keluasan kepada informan untuk menjelaskan pertanyaan atau bahasan.
Selain wawancara, kami menjadikan dokumen sebagai sumber data untuk memperkuat observasi yang kami lakukan. Dokumen yang kami jadikan sumber data antara lain:
1.      Koleksi arsip
2.      Kumpulan dokumen lembaga pendidikan
3.      Dokumen-dokumen lain yang kami anggap berkaitan dengan observasi kami.
Agar mempunyai alat pencatatan untuk menggambarkan apa yang terjadi ketika penelitian sedang berlangsung kami menggunakan alat-alat elektronik yang dapat mendeskripsikan apa yang kami catat dilapangan.

D.  KAJIAN TEORI
1.    Pesantren
Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang didalamnya terdapat seorang kiyai yang mengajar dan mendidik para santri tentang sebuah tradisi keilmuan dengan sarana mesjid yang digunakan untuk aktifitas pendidikan tersebut, serta didukung dengan pemondokan sebagai tempat tinggal para santri.

2.    Elemen- elemen pesantren
a.    Pondok
Pesantren pada dasarnya merupakan asrama pendidikan Islam. Asrama tersebut berada dalam sebuah lingkungan komplek pesantren dimana kiyai atau pendidik bertempat tinggal di lingkungan komplek pesantren tersebut.
b.    Mesjid
Mesjid menjadi elemen penting yang tidak dapat dipisahkan dengan pesantren. Mengajar para santri di mesjid merupakan tradisi pesantren yang menganggap tempat yang tepat untuk menanamkan kedisiplinan para santri dalam mengerjakan kewajiban lima waktu. Selain itu mesjid merupakan bangunan pertama yang harus didirikan dalam pesantren.
c.    Pengajaran kitab-kitab Islam klasik
Pengajaran kitab klasik merupakan satu-satunya pengajaran formal yang diberikan dalam lingkungan pesantren. Tujuan utamanya ialah untuk mendidik calon-calon ulama. Keseluruhan kitab klasik dapat digolongkan ke dalam 8 kelompok, yaitu : 1) Nahwu Sharaf, 2) Fikih,    3) Ushul Fikih, 4) Hadits, 5) Tafsir, 6) Tauhid, 7) Tasawuf dan Etika,    8) cabang lain seperti Tarikh dan Balaghah.
Kitab- kitab tersebut meliputi teks yang sangat pendek sampai kitab yang berjilid tebal. Keseluruhan kitab tersebut digolongkan lagi menjadi 3 kelompok: 1) kitab-kitab dasar, 2) kitab-kitab menengah, 3) kitab-kitab besar.
d.   Santri
Di dalam lingkungan pesantren seorang 'alim disebut sebagai seorang kiyai, bila memiliki pesantren dan santri yang tinggal untuk mempelajari kitab-kitab Islam klasik. Santri adalah elemen penting yang tidak bisa dipisahkan dari sebuah pesantren. Terdapat 2 kelompok santri dalam pesantren, yaitu santri mukim; murid yang menetap di asrama pesantren yang berasal dari desa jauh. Dan santri kalong; murid yang tidak menetap di asrama pesantren yang berasal dari desa di sekitar pesantren.

e.    Kiyai
Kiyai merupakan elemen yang paling esensial. Karena berdirinya pesantren karena adanya kiyai. Kiyai adalah kelompok elit dalam struktur sosial, politik dan ekonomi. Kiyai memiliki pengaruh kuat dimana masa mempercayakan kepada kiyai seputar bimbingan sampai perkawinan. Untuk menjadi seorang kiyai seorang calon harus menyelesaikan pelajarannya di berbagai pesantren. Dengan kata lain seorang kyai harus memiliki cakrawala ilmu keislaman yang dalam dan luas.
3.    Karakteristik pesantren
Selain harus memiliki beberapa elemen di atas, pesantren memiliki sebuah karakteristik yang sudah menjadi tradisi dalam pesantren, yaitu sistem pengajaran sorogan dan bandongan. Sorogan merupakan metode pengajaran individual dimana seorang santri yang mendatangi kiyai yang akan membacakan dan menerjemahkan beberapa baris ayat Al-Quran dan beberapa baris kitab klasik yang seterusnya murid harus mengulangi sama persis apa yang telah dilakukan kiyai.
Berbeda dengan sistem sorogan,  sistem bandongan merupakan metode pengajaran kelompok, dimana kelompok santri belajar di bawah bimbingan seorang kiyai yang membaca dan menjelaskan buku-buku Islam klasik dalam bahasa Arab yang kemudian para santri memperhatikan dan membuat catatan. Metode ini hanya diterapkan bagi santri-santri tingkat menengah dan tinggi.


BAB II
PAPARAN DATA
A.  Profil Lembaga Pendidikan
Pondok Pesantren Salaf Tanjung Salam bermula dari sebuah mesjid tua yang dibangun oleh masyarakat sekitar. Awalnya, di daerah tersebut terdapat seorang Ulama yang Waro' dan disegani oleh masyarakat bernama Mama Ali Afandi. Tidak sedikit dari masyarakat sekitar yang mengaji kepada beliau, bahkan tidak hanya penduduk sekitar saja, dari berbagai daerah pun banyak yang menuntut ilmu kepada beliau.
Setelah cukup lama mengabdi, banyak diantaranya murid-murid beliau yang berhasil. Banyak diantara murid beliau yang menjadi ulama di daerahnya masing-masing. Seperti halnya di daerah tersebut, lahirlah ulama penerus beliau yang bernama Kiyai Usman Baihaki. Pada tahun 1984, Kiyai Usman diberikan amanah untuk meneruskan perjuangan dalam menegakkan agama Islam setelah Mama Ali wafat. Pada saat itu, mesjid yang sekaligus digunakan untuk menuntut ilmu para santri dinamakan Al Fitroh yang berarti suci.
Seiring berjalannya waktu jumlah santri di Mesjid Al Fitroh semakin banyak, lalu atas usulan dari sahabatnya sendiri untuk mendirikan pondok pesantren, maka Kiyai Usman pada tahun 1996 mendirikan pondok pesantren yang diberi nama Pondok Pesantren Tanjung Salam yang mempunyai arti agar tetap maju atau berkembang.
Selaras dengan arti dari namanya, Ponpes Tanjung Salam berkembang dari masa ke masa, para santrinya lebih dididik untuk memperdalam tilawah Quran dan kajian akhlak. Dan tidak sedikit Qari-qari Nasional lahir dari Ponpes Tanjung Salam. Awal mulanya, Ponpes Tanjung Salam terdiri dari dua bangunan, mesjid dan kobong putra hasil waqaf dari Bpk H. Salam pada tahun 1998, pada saat itu tidak menerima santri putri dikarenakan keterbatasan tempat. Namun seiring perkembangannya Ponpes ini pun menerima santri putri.
Pimpinan Ponpes Kiyai Usman dikenal oleh masyarakat dengan kesantunan dan kearifannya, beliau pun sayang kepada santrinya. Sehingga beliau disegani baik oleh santri maupun masyarakat sekitar. Namun, kesedihan harus dialami oleh para santri dan masyarakat sekitar, karena pada tahun 2006, Kiyai yang dikenal dengan kesantunan dan kearifan itu pun harus meninggalkan dunia yang fana ini.
Ketika pemimpin Ponpes Tanjung Salam meninggal dunia, Istri beliau yang saat ini menjabat sebagai Ibu pengasuh sempat akan menutup dan membubarkan para santri Tanjung Salam. Pada saat itu, ibu pengasuh merasa kalut dan merasa tidak ada lagi yang menyokong Ponpes Tanjung Salam. Akan tetapi pada akhirnya ada beberapa orang mahasiswa yang sedang KKN dari Fakultas Kedokteran menyarankan kepada ibu agar tidak membubarkan Ponpes ini. Dan untuk membantu dalam  memajukan Ponpes ini, mereka memberikan bantuan berupa fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan Ponpes Tanjung Salam seperti kitab-kitab dan lain sebagainya.
Setelah Kiyai Usman wafat, estafet kepemimpinan Ponpes Tanjung Salam dilanjutkan oleh putra beliau yang bernama Ust. Dindin Awaludin. Yang pada awalnya beliau merasa belum pantas memegang jabatan setinggi itu, namun atas desakan dari masyarakat dan beberapa kiyai setempat, beliau pun menyanggupinya.
Dikarenakan beliau jebolan dari Universitas Islam Negeri, maka alur kebijakan dan pengembangan Pondok pun lebih kearah modernisasi, namun tentunya tidak merubah ataupun meninggalkan tradisi lama. Sebab pada saat dahulu ayahandanya berpesan untuk tidak mencampuradukkan Ponpes kedalam pemerintahan.
Dalam memimpin Ponpes Tanjung Salam, Ust. Dindin Awaludin memiliki landasan yaitu "Menjaga tradisi lama dan memasukkan tradisi baru yang lebih baik". Maka dari itu beliau berusaha untuk tidak meninggalkan tradisi-tradisi lama Kiyai terdahulu dan membuka wawasan baru bagi para santri agar berpengetahuan luas, tidak hanya sebatas ilmu-ilmu agama tetapi juga ilmu-ilmu kehidupan.
Pada tahun 2008, Ust. Dindin Awaludin mendirikan Yayasan dengan maksud untuk mengembangkan Ponpes dan membantu masyarakat sekitar yang memang rata-rata ekonominya menengah ke bawah. Beliau bekerjasama dengan masyarakat sekitar untuk mengembangkan SDM di bidang wirausaha dan jasa. Dan Alhamdulillah, walhasil perekonomian masyarakat sekitar mulai menggeliat.
1.    IDENTITAS PESANTREN
Nama Pesantren                             : Tanjung Salam
Alamat Pesantren                          : Kampung Ciseupan, Rt.03, Rw.04
                                                         Desa Panyocokan
  Kecamatan Ciwidey
  Kabupaten Bandung   40973

2.    IDENTITAS YAYASAN
Nama Yayasan                               : Al Baihaki
Alamat Yayasan                            : Kampung Ciseupan, Rt.03, Rw.04
                                                         Desa Panyocokan
  Kecamatan Ciwidey
                                                         Kabupaten Bandung   40973

3.    IDENTITAS PIMPINAN PESANTREN
Nama                                              : Dindin Awaludin S.Pd.I
Tempat, Tanggal Lahir                   : Bandung, 18 April 1981
Pendidikan Terakhir                       : Sarjana
Status                                             : Berkeluarga, memiliki seorang putra
Alamat Rumah                              : Kampung Ciseupan, Rt.03, Rw.04
                                                         Desa Panyocokan
  Kecamatan Ciwidey
                                                         Kabupaten Bandung   40973

4.    KONDISI SISWA
No
Santri
Putra
Putri
Jumlah
1.
Mukim
78
32
110
2.
Non Mukim
25
20
45
3.
PAUD
50
45
95
4.
TPA
36
35
71
5.
Jumlah
189
132
321

5.    KONDISI GURU
Lulusan
Guru Tetap
Guru Tidak tetap
Jumlah
Pesantren
7
2
9
PGA
1
-
1
SLTA
1
1
2
Sarjana
3
-
3
Jumlah
12
3
15

6.    FASILITAS
Pondok Pesantren Tanjung Salam memiliki Enam tempat yang digunakan untuk berbagai aktifitas para santrinya, diantaranya :
Ø Mesjid : Digunakan para santri untuk kegiatan shalat berjamaah, mengaji sorogan dan  tilawah Al Quran.
Ø Ruang PAUD & TPA : Digunakan untuk mengaji kelas PAUD dan TPA.
Ø Majelis : Digunakan untuk kegiatan mengaji, muhadoroh dan balagan para santri putra dan putri.
Ø Kobong Putri : Digunakan untuk tempat istirahat para santri putri, letaknya berdekatan dengan mesjid dan rumah Ibu Pengasuh.
Ø Kobong Putra : Digunakan untuk tempat istirahat para santri putra, letaknya berdekatan dengan majelis.
Ø Lapangan : Digunakan untuk olahraga para santri.

7.    CIRI KHAS PESANTREN
·         Kajian kitab kuning ala salaf.
·         Tilawah Al-Quran dan kajian akhlak.
·         Memiliki hubungan kekeluargaan yang sangat erat.
·         Lebih mempertahankan tradisi lama.
·         Apik dalam hal fiqih.
·         Tidak mewajibkan para santri untuk bersekolah, tapi pihak pesantren menuntut bahwa para santri harus memiliki kreatifitas dalam berwirausaha.
·         Metode sorogan, balagan, bashul kutub dan talaran (hapalan).


8.    KAJIAN SANTRI SALAF SESUAI DENGAN TINGKATANNYA
IBTIDA
USTHO
U'LYA
Safinah
Fathul Qarib
Fathul Mu'in
Jurumiyah
Kailani
Alfiyah
Akhlakul Banin 1-2
Akhlakul Banin 3-4
Minhajul Abidin
Fiqih Wadih
Ta'lim Muta'lim
Siroju Tholibin
Tankihul Qaul
Durotun Nasihin
Tafsir Jalalain
Tijan Darori
Bulughul Maram
Riyadus Shalihin
Mujawaz
Mujawaz
Mujawaz

9.    JADWAL KEGIATAN MENGAJI SANTRI
Kelas Ibtida
No.
Hari
Pengajar
Kitab
1.
Senin
Nadzir M. Maulana S.Pd.I
Safinah
2.
Selasa
Ust. Iyep Saepudin
Jurumiyah
3.
Rabu
Nadzir M. Maulana S.Pd.I
Akhlakul Banin 1-2
4.
Kamis
Ust. Eman Sulaeman
Fiqih Wadih
5.
Jumat
Dindin Awaludin S.Pd.I
Tankihul Qaul
6.
Sabtu
Ust. Nandang Wiharya
Tijan Darori
7.
Minggu
Ust. Salman
Mujawaz

Kelas Wustho
No.
Hari
Pengajar
Kitab
1.
Senin
KH. Rizal Sanusi
Fathul Qarib
2.
Selasa
Dindin Awaludin S.Pd.I
Kailani
3.
Rabu
Ust. Jamaludin
Akhlakul Banin 3-4
4.
Kamis
Dindin Awaludin S.Pd.I
Ta'lim Muta'lim
5.
Jumat
Nadzir M. Maulana S.Pd.I
Durotun Nasihin
6.
Sabtu
KH. Rizal Sanusi
Bulughul Maram
7.
Minggu
Ust. Salman
Mujawaz

Kelas U'lya
No.
Hari
Pengajar
Kitab
1.
Senin
KH. Rizal Sanusi
Fathul Mu'in
2.
Selasa
Ust. Nandang Wiharya
Alfiyah
3.
Rabu
Dindin Awaludin S.Pd.I
Minhajul Abidin
4.
Kamis
KH. Rizal Sanusi
Siroju Tholibin
5.
Jumat
Dindin Awaludin S.Pd.I
Tafsir Jalalain
6.
Sabtu
Ust. Eli Permana
Riyadus Shalihin
7.
Minggu
Ust. Salman
Mujawaz


Jadwal Mengaji Mingguan  Santri
No.
Minggu
Pengajar
1.
Ke 1
KH. Rizal Sanusi
2.
Ke 2
Dindin Awaludin S.Pd.I
3.
Ke 3
Ust. Nandang Wiharya
4.
Ke 4
Ust. Abu Mansur

Kegiatan Tahunan
Pondok Pesantren Salaf Tanjung Salam pun mengadakan kegiatan tahunan yang biasanya diisi oleh berbagai kegiatan para santrinya, diantaranya :
ý  Lomba Tilawah Quran.
ý  Lomba Tahfidz Quran.
ý  Lomba Bashul Quthub.
ý  Ujian Semesteran.
Para santri Tanjung Salam pun selalu mengikuti perlombaan Tilawah Quran, Tahfidz Quran dan Bashul Kutub yang diadakan oleh pondok pesantren lain atau oleh berbagai Instansi, dari mulai tingkat Kecamatan, Kotamadya atau Kabupaten, hingga tingkat Nasional.
Anggaran Masuk Pesantren Tanjung Salam
Pada dasarnya, Ponpes Salaf Tanjung Salam tidak terlalu mementingkan masalah pembiayaan para santrinya. Hal itu dikarenakan tuntunan dan amanah dari alm. Kiyai Usman Baihaki yang sangat sayang kepada para santrinya, sehingga tidak membebankan santrinya dalam hal biaya pemondokan. Bahkan beliau menanggung segala kebutuhan makan para santrinya.
Namun, seiring berjalannya waktu timbul kesadaran dari para orangtua santri untuk mengaggarkan biaya agar meringankan beban Ponpes. Maka dari itulah, pada saat ini dibuatkan anggaran untuk santri dengan rincian :
Biaya Masuk
Rp. 50.000
Biaya Bulanan
Rp. 20.000  (air + listrik)
Biaya Makan
Rp. 20.000  / bln


10.    KEGIATAN SANTRI
Jam
kegiatan
04.00 – 05.00
Bangun tidur, Mandi,  Lalu Sholat.
05.00 – 06.30
Mengaji kitab kuning yang sudah terjadwal di Majelis.
06.30 – 07.00
Bersih-bersih di rumah Kiyai dan Ibu Pengasuh.
07.00 – 12.00
Sekolah bagi anak santri yang bersekolah.
08.00 – 09.00
Istirahat sejenak, diisi dengan kegiatan pribadi bagi santri yang mukim.
09.00 – 11.00
Pengajian yang sudah terjadwal di Mesjid.
11.00 – selesai
Makan siang, muthola'ah dan istirahat.
11.45 – selesai
Siap-siap untuk Sholat Dzuhur.
12.00 – 17.00
Sekolah bagi para santri yang bersekolah siang.
15.00 – selesai
Sholat Ashar.
16.00 – 17.00
Mengaji kitab yang sudah terjadwal di Mesjid.
17.40 – selesai
Sholat Maghrib.
18.00 – 21.30
Mengaji sesuai dengan jadwal di Majelis.
21.30 – selesai
Shalat Isya, Makan dan Tidur.

Ket :
Bagi para santri yang tidak bersekolah, kegiatan sehari-harinya diisi dengan berbagai pelatihan usaha keterampilan diantaranya : membuat Peci (kopiah) dengan berbagai warna dan corak khas Tanjung Salam, membuat telor asin, hingga menjajakan barang dagangan.
Para santri pun diajarkan ilmu-ilmu atau keterampilan yang sangat familiar dan dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat nantinya, diantaranya : diajarkan teknik berpidato atau ceramah yang baik, cara menjadi Khotib dan Imam yang baik, diajarkan cara menjadi Nai'b (orang yang suka menikahkan pengantin), diajarkan cara mengkhitan yang benar dan lain sebagainya.



Penutup
Reformasi Pendidikan Islam tradisional tidak dicapai dengan meninggalkan sistem tradisional. Meskipun tidak semua pesantren telah melakukan perubahan, dalam tradisi pesantren telah terdapat pemisahan antara yang mengajarkan pengetahuan umum dengan yang tidak. Tetapi terlepas dari semua itu pesantren pada masa sekarang ini telah mengembangkan pesantren dengan mengurangi hal- hal yang dianggap tidak selaras dengan perkembangan masyarakat.
Sekarang pesantren modern khusunya banyak mendirikan sekolah formal mulai dari tingkat dasar sampai tingkat perguruan tinggi. Perkembangan ini mengakibatkan tradisi kehidupan pesantren yang sederhana dan tradisi lainnya mulai menghilang.
Pemisahan yang terjadi antara pesantren Salafi dan Khalafi tidak menimbulkan pengelompokan atas dasar sosial keagamaan yang berbeda. Sejauh ini pemisahan tersebut hanya menciptakan perbedaan- perbedaan dalam bentuk aktivitas sosial dan intelektual seperti cara berpakaian, gaya hidup, tingkah laku kemasyarakatan dan aspirasi pekerjaan.
Pesantren khalafi (modern) kini tidak hanya sekedar memberikan pengajaran umum saja. Tetapi mulai membangun fasilitas-fasilitas modern dan memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada. Meski demikian pengaruh pesabtren salafi pada saat ini tidak dapat diremehkan.

B.     Bevel: PENGASUH PONPES
KH. Rizal SHStruktur Kepengurusan Pondok Pesantren Tanjung Salam
KEPESANTRENAN
KURIKULUM
SARANA PRASARANA
DANA USAHA
HUMAS
Ust. Nandang
Ust. Jamaludin
Ust. Eli
Ust. Asep S.A
Ust. Zainul Akhyar
Bambang W
Entin
Wari Nur
Feti
Ade
Salman
Dede Hendi
Entis
Fandi
Sidiq
Tedi
Johar
Eka Permana
Eki
Nasrullah
Oka
Uyun
Iyep
Saefullah
Eman Sulaeman
Cucu
H. Nurjamilah
Halimah




Bevel: PENASEHAT
H. Moh. Ishaq



 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar